Rabu, 19 Januari 2011

Entrepreneur vs Technopreneur

Entrepreneur vs Techopreneur
Technopreneur bermula dari kegiatan entrepreneurship atau berwirausaha. Norman M. Scarborough dan
Thomas W. Zimmerer (1993:5) mengemukakan definisi wirausaha, yaitu "An entrepreuneurship is a proses
of everything that related with creating a new business in the face of risk and uncertainty, identifying
opportunities and assembling necessary resourses to rise the utility value on those opportunities". Wirausaha
adalah segala proses yang berhubungan dengan menciptakan bisnis yang berhadapan dengan resiko dan
ketidakpastian, mengidentifikasi peluang, dan meningkatkan nilai tambah dari peluang itu. Kegiatan
technopreneurship berasal dari penggabungan entrepreneurship dengan technology.
Pembicara dalam talkshow, Dwi Larso, Ph.D mendiferensiasikan entrepreneurship dan technopreneurship
dua hal yang berbeda. "Secara kasarnya, kalau entrepreneurship kita menjual produk apapun, kalau
technopreneurship yang kita jual adalah teknologi." Jadi, secara tidak langsung apabila kita melakukan
kegiatan technopreneurship, kita akan mendukung kemajuan teknologi di Indonesia.
Dwi Larso, Ph.D juga menambahkan, "Mau apapun namanya, mau technopreneur, biopreneur, ecopreneur,
dasarnya adalah entrepreneur dengan 3 kata kuncinya : peluang (opportunities), risiko (face of risk), dan nilai
tambah (utility value)". Prinsip pertama, seorang entrepreneur harus pandai menciptakan peluang. Peluang
bisa berasal dari apapun yang ada di sekitar kita. Kedua, setelah menciptakan peluang saatnya kita
mengambil tindakan nyata dan berani menanggung risiko terbesar dari tindakan kita. Ketiga, kegiatan entrepreneur harus mampu menciptakan nilai tambah bagi pihak-pihak yang terlibat di dalam kegiatan ini.

Kesempatan techopreneurship di Indonesia sangat terbuka lebar. Dari komposisi usaha di Indonesia sekitar
95-99% didominasi oleh usaha mikro dan kecil dan sisanya usaha makro atau besar. Hal ini dianggap masih
belum kokoh apabila dibuat struktur ekonominya. Dibandingkan dengan Malaysia yang 75% mikro dan kecil,
15% menengah, dan 10% makro atau besar, Indonesia masih dirasa kalah.

0 komentar:

Posting Komentar